Revolusi hijau berupa penerapan teknologi di bidang pertanian dengan menggunakan teknologi benih, pupuk dan pestisida telah memberikan hasil yang berkali lipat dari sebelumnya. Untuk sesaat kekhawatiran orang akan ramalan Thomas Robert Malthus, pakar demografi Inggris abad 18 yang terkenal dengan bukunya An Essay on the Principle of Population, tidak terbukti. Buku tersebut antara lain menyatakan bahwa pertambahan jumlah penduduk mengikuti deret ukur sementara pertambahan produksi pangan hanya mengikuti deret hitung sehingga menurut perhitungannya, penduduk dunia akan bertambah 2 kali lipat setiap 25 tahun sehingga pada akhirnya akan terjadi bencana kelaparan.
Sebagaimana dengan revolusi industri yang membawa dampak negatif, revolusi hijau akhirnya membawa dampak negatif pula. Benih hibrida telah menciptakan ketergantungan kepada pupuk serta pestisida buatan. Benih hibrida juga menyebabkan hilangnya varietas-varietas lokal yang terbukti ratusan tahun cocok dengan lingkungan setempat.
Penggunaan pupuk buatan memang dalam jangka pendek mampu membawa hasil yang luar biasa namun dalam jangka panjang justru membuat tanah semakin kurus.
Penggunaan pestisida kimia malahan menciptakan hama-hama baru yang tadinya bukan hama (hama sekunder). Penggunaan pestisida juga menciptakan resistensi dari organisme sasaran. Pestisida juga berbahaya bagi konsumen. Semua teknologi ini selain berharga mahal juga menciptakan ketergantungan. Petani tergantung kepada produsen benih, pupuk serta pestisida sehingga membuat petani tidak menjadi semakin sejahtera
Untuk mensejahterakan petani kita harus kembali kepada pertanian yang berbiaya rendah dan mampu secara berkesinambungan memberikan hasil kepada para petani. Untuk itulah pertanian yang mampu memberi hasil berkelanjutan (pertanian lestari) harus selalu menjadi pokok perhatian kita
Website sederhana ini diharapkan dapat membantu masyarakat dan siapapun untuk mendapatkan informasi dari kegiatan yang berhubungan dengan pertanian lestari.
Categories:
Artikel